Memahami ALur Pemikiran Para Filsuf

Memahami ALur Pemikiran Para Filsuf – Dalam Kuliah Umum yang diadakan oleh “HMJ Akidah dan Filsafat Islam” ini, saya mencoba mengangkat permasalahan ihwal “dalam masyarakat konsumeris saat ini, apakah mahasiswa itu justru bertindak sebagai perancang konsumerisme, ataukah pemberi penyadaran, atau malah menjadi korban?

Sokrates adalah filsuf yang tiada duanya, yang menjadikan seluruh kehidupannya sebagai ajarannya. Apa yang dia katakan dan diskusikan adalah apa yang dia jalani. Dia menjelaskan kepada para sahabat dan muridnya bahwa seorang philosophos (filsuf) itu adalah seseorang yang tidak takut mati karena, selama hidupnya, sang philosophos berlatih mati melalui philosophia (kini dikenal sebagai filsafat), sehingga saat maut menjemput, sang philosophos sama sekali tak menghindarinya dan gentar karenanya.

Percakapan ihwal apa philosophia itu, Sokrates bicarakan bersama para sahabatnya di hari terakhir kehidupannya, bahkan dengan diselingi gelak tawa, sebelum dia meminum racun. Dia meminum racun dengan wajah riang gembira, tanpa takut; namun dia marah saat sahabat dan muridnya menangis melihat hal tersebut. Sembari marah dia berkata, bahwa karena tak mau mendengar isak tangis itulah maka dia menyuruh Xantippe, istrinya, agar diantar pulang. Ndilalahnya, malah para sahabatnya sendirilah yang menangis menyaksikan adegan Sokrates meminum racun tersebut.

Memahami ALur Pemikiran Para Filsuf

Sebagaimana kita tahu, Sokrates hidup miskin dan bahkan memakai pakaian yang sama selama setahun. Sokrates tak pernah menarik bayaran dari pengajarannya—sebagaimana halnya kaum Sofis, yang, kata Romo Setyo, adalah “para pelopor dosen modern”–sementara di tanah air, berulang kali kita mendengar berita ihwal “aliran keagamaan baru” yang pemimpinnya menarik bayaran dari para pengikutnya. Tapi, banyak juga yang mau membayar dan mengikutinya. Aneh.

Namun, kini, kita bisa menemukan reproduksi dari lukisan “La Mort de Socrate” karya Jacques-Louis David (1787) di sebuah cafe yang, sebagaimana umumnya kita ketahui, menawarkan kenyamanan buat nongkrong plus makanan dan minuman dengan harga yang biasanya diperuntukkan bagi kelas menengah atas.

Ironi yang menarik. Mengkonsumsi makanan dan minuman dengan harga yang tak murah di sebuah cafe yang nyaman sambil dilatari lukisan seorang filsuf miskin yang bahkan tak mempunyai baju lain untuk dipakainya di saat dia hendak meminum racun.